Empat Allah Memprakarsai Murka -nya – Lautan Ilmu

Terdapat sebuah hadits bermula Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala Allahmenciptakan para makhluk, Dia menggambar berisi buku-Nya, yang kitabituterletak di sisi-Nya pada dan ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebihmengalahkan amarah-Ku.” (HR. Bukhari no. 6855 dan Muslim no. 2751)

Di batin (hati) Fathul Bari, hadits pada bersama mengungkapkan bahwa belas kasihan Allahta’ala lebih lalu terdapat bersama lebih belantara daripada murka -Nya. Hal itudisebabkan patos Allah ta’ala ialah prilaku yg telah akrab padadiri-Nya (kepribadian dzatiyyah) beserta diberikan pada makhluk-Nya tanpa sebabapapun. Dengan cakap lain, walaupun tidak pernah terdapat bajik lalu pengorbanandari makhluk-Nya, dalam asalnya Allah ta’ala tetap suka kepadamakhluk-Nya. Dia menciptakannya, membagi rizki kepadanya bermula sejakdalam diktum, saat penyusuan, sampai balig, biarpun belum adaamal darinya untuk Allah ta’ala. Sementara murka -Nya muncul lalu sebabpelanggaran dari makhluk-Nya. Maka pada, itu, empat Allah ta’ala sudahtentu memelopori marah-Nya.

Luasnya Rahmat AllahDari hadits di bersama juga memperlihatkan bagaimana luasnya belas kasihan Allah yangdiberikan pada makhluk-Nya. Berikut aku sampaikan sebanyak riwayatyang berurusan dan luasnya belas kasihan Allah ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya mendengarRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Allah menjadikanrahmat (kurnia cinta) itu seratus kelompok, lantas Dia cegah pada sisi-Nya99 seksi lalu Dia menurunkan satu bagiannya ke jagat. Dari satu bagianinilah seluruh makhluk berkasih cinta sesamanya, mencapai-sampai seekorkuda mengangkat kakinya karena takut menginjak anaknya.” (HR. Bukharino. 5541 lagi Muslim no. 2752)
US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US
Dari Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemunculam rombongan tawananperang. Di antara-antara rombongan itu terdapat seseorang ibu yg sedangmencari-raba bayinya. Tatkala dia mampu menemukan bayinya di antaratawanan itu, dan sampai-sampai dia walau memeluknya dekat-dekat ke tubuhnya danmenyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pertanyaan kepadakami, “Apakah menurut kalian makini hendak tega melontarkan anaknya kedalam kobaran cahaya?” Kami menimpali, “Tidak entah, atas nama Allah. Sementaradia mampumenghalangi bayinya terlempar ke dalamnya.” MakaRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebihsayang kepada hamba-hamba-Nya usahkan ibu ini kepada anaknya.” (HR.Bukhari no. 5999 lalu Muslim no. 2754)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda, “Kalau seandainya seorang mukmin mengetahui segalabentuk hukuman yang terdapat pada sisi Allah pasti tidak akan ada seseorang punyang masih berhasrat jatah menerima nirwana-Nya. Dan apabila seandainyaseorang kafir mendeteksi seluruh patron empat yang ada di sisi Allahniscaya tidak hendak ada seseorang walau yg berputus harapanmeraihsurga-Nya.” (HR. Bukhari no. 6469 beserta Muslim no. 2755)

Jangan Berputus Asa mulai Rahmat Allah

Setelah mendeteksi bagaimana luasnya empat Allah ta’ala, makaseharusnya saya lebih bersemangat dengan bagi menggapainya beserta jangansampai berputus harapan darinya. Sikap bubar harapan bermula rahmat Allah inilahyang Allah sifatkan pada perseorangan-sendiri kafir beserta sendiri-perseorangan yang sesat.Allah berfirman, “Mereka menggagalkan, ‘Kami menyampaikan informasi gembirakepadamu dengan akurat, maka janganlah kamu terkandung pribadi-orang yangberputus harapan’. Ibrahim menyampaikan, ‘Tidak ada sendiri yang berputus asa darirahmat Rabb-Nya, kecuali diri-diri yg sesat’.” (QS. Al Hijr: 55-56)

Dan juga firman-Nya, “Wahai budak-anakku, pergilah kamu, dan sampai-sampai carilahberita tentang Yusuf dengan saudaranya lalu jangan kamu berputus asa darirahmat Allah. Sesungguhnya tak berputus asa mulai patos Allahmelainkan rombongan yg kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Syaikh Salim bin ‘Ied AlHilaly hafidzahullah menaruh faidah bagi poin pada atas: “Oleh sebabitu, berputus harapan berawal rahmat Allah ta’ala yakni prilaku sendiri-orangsesat dengan pesimis sekitar karunia-Nya adalah kepribadian diri-orangkafir. Karena mereka bukan mendeteksi keringanan belas kasihan Rabbul ‘Aalamiin.Siapa saja yang merosot berisi aktivitas pantangan ini berarti sira telahmemiliki karakter yang sama beserta mereka, laa haula wa laa quwwata illaabillaah.”

Selain itu, berputus asa bermula belas kasihan Allah jua terkandung salah satudiantara maksiat-dosa kuat. Diriwayatkan pada, Ibnu Abbas radhiyallahu‘anhu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanyatentang kesalahan-salah besar beliau tangkis, “Yaitu salah pada Allah,kandas asa pada, belas kasihan Allah, dengan menganggap aman dari makar/adzab Allah.”(HR. Ibnu Abi Hatim, hasan)

Ampunan Allah Termasuk Rahmat-Nya

Pembaca yang dirahmati Allah, syirik satu arsitektur luasnya empat Allahadalah luasnya ampunan Allah untuk para hamba-Nya yang sempat melakukankemaksiatan pada Allah, selagi hamba tersebut hendak bertaubat. Allahta’ala berfirman, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yg malampaui batasterhadap sendiri mereka badan, janganlah kau berputus harapan berawal rahmatAllah. Sesungguhnya Allah memaafkan dosa-dosa segenap. SesungguhnyaDia-lah Yang Maha Pengampun dengan Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)

Ibnu Katsir rahimahullah menginterpretasikan pasal di dan, “Ayat yang muliaini berisi ajakan pada setiap perseorangan yang berbuat kesalahan baikkekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat pada Allah. Ayat inimengabarkan maka Allah bakal mengampuni seluruh salah jatah siapa yangingin bertaubat berawal syirik-kesalahan tersebut, sekalipun kesalahan tadi amatbanyak, seperti buih di samudera .”

Kemudian dia memasukkan, “Berbagai hadits memperlihatkan maka Allahmengampuni setiap kesalahan (terkandung jua kesyirikan) jika seorang maubertaubat. Janganlah seseorang berputus harapan mulai belas kasihan Allah, walaupunbegitu banyak salah yg dia lakukan karena pintu taubat bersama belas kasihan Allahbegitu belantara.”

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Saya mendengar Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “…Hai budak Adam,sungguh seandainya kau bertandang menghadapKu lalu membujuk maksiat sepenuhbumi, bersama kau masuk tanpa mempersekutukan-Ku dengan sesuatupun. SungguhAku bakal mendatangimu lalu maaf sepenuh dunia jua.” (HR. Tirmidzi,hasan)

Jangan Kau Undang Murka Allah bersama Merasa Aman Darinya

Banyak manusia yang terbenam lantaran luasnya rahmat dan sayang sayangAllah terhadapnya, kemudian mengangkat dia merasa damami berawal datangnyamurka Allah disebabkan kesalahan lalu kemaksiatan yg sira lakukan. KemurkaanAllah mampu mendarat berupa adzab lagi penindasan baik di jagat maupun diakhirat.

Allah ta’ala berfirman, “Maka apakah mereka rukun berawal adzab Allah(yang tak tersangka-terka datangnya)? Tiadalah yg menganggap damami dariadzab Allah selain perseorangan-perseorangan yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99).

Ayattersebut menjelaskan maka diantara kepribadian orang-sendiri musyrik adalahmereka menganggap tenang berawal aniaya Allah lagi tidak merasa sakit hati darisiksa-Nya.

Maka esensi adzab (muslihat) Allah ta’ala merupakan Allah memberikankelonggaran kepada seseorang hamba yang selalu berbuat salah danmaksiat lalu mempermudah urusannya (berisi bermaksiat) akibatnya dibenar-benar sadar rukun dari murkadengan aniaya-Nya. Dan bidang inilah yangdinamakan “istidraj”.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika Allah memberikankenikmatan kepada seseorang hamba sebaliknya dirinya tetap dengan maksiat yangdikerjakannya, maka sebenarnya itu artinya istidaj.” KemudianRasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melafalkan firman Allah, “Makaketika mereka melalaikan ultimatum yg telah diberikan pada mereka,Kami kendati membukakan seluruh pintu-pintu candu untuk mereka, Kamisiksa mereka beserta sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiamdan berputus harapan.” [QS. Al An’am: 44] (HR. Ahmad, shahih)

Miliki Rasa Harap (raja’) lalu Takut (khauf)

Sudah sepatutnyaseorang muslim untuk memiliki sangka mohon(raja’) beserta kecil hati (khauf) dalam dirinya. Yaitu selalu berharap atasrahmat Allah lagi tidak berputus harapan darinya, dengan selalu tersakiti akandatangnya adzab dengan penindasan Allah ta’ala. Bagaimana selayaknyamenyeimbangkan ganggang kuasa mohon (raja’) bersama tersinggung (khauf) pada diriseseorang?

Article Categories:
Success

Comments are closed.